Sekedar berbagi dan bagian dari sosialisasi rhesus negatif di Indonesia...
mengingat
pentingnya kita mengetahui rhesus, apalagi bagi wanita yang ber Rhesus
negatif dan akan menghadapi kehamilan...agar kehamilan nya tidak
beresiko yg mengakibatkan fatal, oleh krn itu wawasan / informasi ttg
rhesus wajib diketahui...
Ini hanya saran untuk calon Pasutri
yang ingin melangsungkan kejenjang pernikahan. Ada baiknya saat memilih
Istri atau suami jangan hanya mengandalkan cinta semata. Akan tetapi
juga harus dikenali lebih awal menyangkut dengan Rhesus dan golongan
darah.
Rhesus merupakan sistem penggolongan darah. Sama seperti
misalnya golongan A, B, AB dan O. Sedangkan Rhesus itu ada dua macam,
yaitu Positif dan Negatif. Bila ingin mengetahui apakah Rhesus negative
atau Positif, maka segera berkonsultasi pada dokter.
Bila calon
Pasutri tidak memperhatikan Rhesus akan sangat berpengaruh rentannya
pada kehamilan Ibu, dan anak pun akan sangat rentan terserang Anemia.
"Pengaruhnya jika suami Rh+ dan Istri Rh-, kemudian hamil dan bayi ikut
Rh ayah. Jadi, hamil pertama tidak masalah, namun bermasalah ketika
hamil berikutnya
Ini kutipan beberapa tulisan dan berita tentang resiko kehamilan dari Ibu ber Rhesus negatif dan cara mengatasinya
Beda rhesus darah antara ibu dengan janin bisa berakibat fatal bagi janin. Sehingga penting untuk mengenal rhesus darah.
Ada
tidaknya antigen (karbohidrat dan protein) dalam sel darah kita. Itulah
yang membedakan rhesus positif dan rhesus negatif. Disebut positif jika
ada antigen dalam darah kita, dan bila tak ada disebut rhesus negatif.
Kabar baiknya, orang Indonesia yang termasuk ras Asia, kebanyakan dengan
rhesus positif. Di seluruh dunia ini, hanya sedikit orang yang memiliki
rhesus negatif, sehingga bila memerlukan donor darah agak sulit. Rhesus
negatif umumnya dijumpai pada orang-orang yang mempunyai garis
keturunan Kaukasian (berkulit putih).
Menikah beda rhesus.
Masalah akan timbul bila Anda memiliki rhesus negatif kemudian menikah
dengan pria yang memiliki rhesus positif. Ketidak samaan ini bisa jadi
cikal bakal ketidakcocokan rhesus yang sangat berbahaya bagi bayi.
Kehadiran janin di tubuh ibu merupakan benda asing, apalagi jika rhesuf
janin tidak sama dengan rhesus ibu. Secara alamiah tubuh bereaksi dengan
merangsang sel darah merah berupa zat antibodi/antirhesus untuk
melindungi tubuh ibu sekaligus melawan ‘benda sing’ tersebut (janin).
Inilah yang menimbulkan anti rhesus (penghancuran sel arah merah) atau
hemolitik. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian janin dlam rahim, atau
jika lahir menderita hati yang bengkak, anemia, kuning (jaundice), dan
gagal jantung.
Bahaya di Kehamilan Kedua. Perbedaan rhesus antara
ibu dan janin tak terlalu berbahaya pada kehamilan pertama. Sebab,
kemungkinan terbentuknya zat antirhesus atau antibodi pada kehamilan
pertama. Sebab, kemungkinan terbentuknya zat antirhesus atau antibodi
pada kelahiran pertama sangat kecil. Kalaupun sampai terbentuk,
jumlahnya tidak banyak, sehingga bayi pertama dapat lahir sehat.
Pembentukan zat antirhesus baru benar-benar dimulai pada saat proses
persalinan (atau keguguran) kehamilan pertama. Saat plasenta lepas,
pembuluh-pembuluh darah yang menghubungkan dinding rahim dengan plasenta
juga putus. Akibatnya, sel-sel darah merah bayi dapat masuk ke dalam
jumlah yang lebih besar. Selanjutnya, 48-72 jam setelah persalinan atau
keguguran, tubuh ibu dirangsang lagi untk memproduksi zat
antibodi/antirhesus lebih banyak lagi. Kelak saat ibu mengandung lagi,
zat antibodi/antirhesus di tubuh ibu akan menembus plasenta dan
menyerang sel darah merah janin.
Produksi antibodi ini sama
seperti produksi antibodi pada umumnya bila ada zat asing masuk dalam
tubuh. Sekali ada makhluk asing yang sudah dikenali, maka antibodi
akanmelindungi ibu agar bila zat asing itu muncul kembali, tubuh ibu
dapat menyerang dan menghancurkannya. Proses ini terjadi demi
keselamatan ibu sendiri. Namun, kadar antibodi atau antirhesus pada
setiap ibu tidak sama. Ada yang rendah, ad ayang tinggi. Yang gawat,
bila antibody kadarnya tinggi. Dalam kondisi ini, janin harus dipantau
dengan alat ultrasonografi. Dokter akan memanatu masalah pad apernapasan
dan peredaran darah, cairan paru-paru, atau pembesaran hati, yang
merupakan gejala-gejala penderitaan bayi akibat rendahnya sel darah
merah. Kadang-kadang lalu diputuskan persalinan lebih dini, sejauh usia
janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan di luar rahim.
Yang harus dilakukan:
Periksa
kesehatan sebelummenikah. anjuran "klasik" ini sangat berguna untuk
kasus-kasus penyait genetik seperti ini. namun bila sebelum menikah And
adan pasangan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan darah, termasuk
rhesus, lakukan segera saat hamil.
Bila rhesus darah Anda beda dengan
suami, dokter bisa memberikan tindakan pencegahan terbentuknya zat
antirheus dengan obat anti-Rhogama globulin (RhoGAM) atau Rh
Immunuglobulin. RhoGAM disuntikkan pad ausia kehamilan 28 minggu dan
saat persalinan.
Bila ibu mempunyai rheusu negatif, atau
ketidakcocokan golongan daran antara janin dan ibu baru diketahui usia
peraslinan, suntikan RhoGAM untuk ibu sebaiknya diberikan dalam waktu
maksimal 72 jam setelah persalinan. rhoGAM efektif hanya berlangsung 12
minggu, sehingga setelah lewat masa tersebut Anda harus mendapat
suntikan kembali agar kehamilan berikutnya tidak bermasalah.
peta rhesus janin :
